KALSEL.SIN.CO.ID – Koperasi Pondok Pesantren Indonesia, Institut Hasyim Muzadi Depok, dan Sorgum Sejahtera Foundation menginisiasi Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum. Tujuannya mendorong santri dan pesantren berperan aktif membangun kemandirian pangan melalui budidaya, pemanfaatan, dan pengembangan sorgum.
Kementerian Agama mengapresiasi gerakan yang mengusung semangat “Santri Menanam Apa yang Dimakan, Menuju Kemandirian Pangan yang Halal dan Thayyib” ini. Direktur Pemberdayaan Pesantren Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag, Yusi Damayanti mengatakan bahwa gerakan ini menjadi langkah mewujudkan kemandirian pangan pesantren.
Menurut Yusi Damayanti, kemandirian pangan di pesantren tidak hanya menyangkut ketahanan ekonomi lembaga. Kemandirian pangan juga menjadi bagian dari upaya melindungi tumbuh kembang santri. Kemandirian pangan juga sebagai fondasi kemandirian pesantren secara utuh.
“Pesantren yang mampu menanam dan mengolah pangannya sendiri adalah pesantren yang berdaulat. Kemandirian pangan bukan sekadar urusan dapur. Ia adalah fondasi kemandirian lembaga, dan pada akhirnya fondasi bagi masa depan santri,” ujarnya saat menghadiri peluncuran Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum di Pesantren Al-Hikam II, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/10/2026).
Ia juga menekankan keterkaitan langsung antara pangan mandiri dan perlindungan anak. Menurutnya, pesantren yang berdaulat pangan memiliki kendali lebih besar atas kualitas asupan santri yang diasuhnya setiap hari.
“Ketika pangan di pesantren mandiri, anak-anak kita sekaligus terlindungi. Mereka tidak bergantung pada pasokan yang naik-turun, gizinya lebih terjamin, dan pengasuhan berjalan lebih utuh. Merawat gizi santri adalah bagian dari merawat dan melindungi anak,” tegas Yusi.
Selain soal gizi, Yusi mengajak santri memaknai gerakan menanam sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam. Sorgum dikenal tahan kekeringan dan mampu tumbuh di lahan marginal, sehingga dinilai cocok dikembangkan di lingkungan pesantren.
“Menanam adalah ibadah, dan merawat alam adalah amanah. Santri diajarkan menjadi khalifah di muka bumi, dan itu dimulai dari tanah yang ia olah sendiri. Sorgum mengajarkan kita bahwa lahan yang dianggap kurang subur pun bisa memberi kehidupan bila dirawat dengan sungguh-sungguh,” tuturnya.
Yusi juga mengaitkan gerakan ini dengan nilai halal dan thayyib yang menjadi ruh pendidikan pesantren. “Halal menyangkut cara dan sumbernya, thayyib menyangkut kualitas dan manfaatnya bagi tubuh. Ketika santri menanam apa yang ia makan, ia tahu persis dari mana makanannya berasal. Di situlah halal dan thayyib menemukan wujud nyatanya,” jelasnya.
Ia menyatakan Ditjen Pesantren siap mendorong sinergi agar gerakan ini berkelanjutan dan terhubung dengan penguatan ekonomi pesantren. “Kami ingin gerakan ini tidak berhenti pada seremoni. Dari kebun, berlanjut ke dapur pesantren, lalu ke koperasi. Dengan begitu, sorgum tidak hanya menyehatkan santri, tetapi juga menggerakkan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitarnya,” pungkasnya.
Gerakan Sejuta Santri Menanam Sorgum diharapkan menjadi ruang temu dan kolaborasi antara pesantren, santri, dunia usaha, pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Kolaborasi ini diarahkan untuk membangun ekosistem pangan yang produktif, berkelanjutan, dan bermanfaat nyata bagi generasi mendatang.(***)











